Hijrahlah Pacaran itu Haram


Hijrahlah Pacaran itu Haram
“Oiya gimana keadaan Adek? sudah baikan? udah sarapan Adek?”
Inilah kalimat yang Ia tanyakan padaku tatkala membuka topik baru setelah membicarakan motor yang aku titip padanya ketika pulang kampung. Seketika air mataku menangis membalas chat bbm dari mantan pacarku ini. Dia baru saja memutuskan hubungannya denganku 11 jam yang lalu.
“Kenapa abang nanya gini? Nangis adek baca bbm abang!” balasku dengan jujurku.
“Sudah jangan bersedih, maafin abang sudah buat adek sedih,” jawabnya
Permintaan maaf ini membuatku berpikir, ada kemungkinan hubungan kami akan bisa dianjutkan.
“Adek masih sakit Bang, sakit fisik dan perasaan,”

“Oh maaf karena sikap abang mungkin yang keterlaluan dan buat adek sedih, tapi memang itu harus abang lakukan Dek, janganlah larut dalam kesedihan, Move on- lah, jangan sakit, abang mau adek tetap ceria dan sehat meski tanpa abang,”
Dia tetap ingin memutuskan hubungan pacaran yang telah kami jalani 8 bulan ini. Aku sangat sedih dan kembali menangis.
“Ini termosnya sudah siap,” tutur bibiku dari dapur.
Aku segera menghapus air mataku, dan mengambil termos tersebut. Aku mengikatnya, dan segera menuju rumah sakit. Di perjalanan, aku selalu memikirkan nasib hubunganku dengan pria yang selalu kubangga banggakan itu. Dia begitu baik dan dewasa, banyak pemahaman-pemahaman baik yang diajarkannya padaku. Hubungan kami kandas hanya karena kesalahfahamannya.
“Ini termosnya Bang,” ku kasih termosnya pada abang sepupuku yang setia menemani istrinya sampai buah hati pertama mereka lahir.
“Iya, letakkan disini saja, itu ada roti, makanlah,” tuturnya.
“Iya, nanti aku akan memakannya,” ujarku.
Aku baru ingat, aku belum sarapan, padahal waktu telah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Entah mengapa, aku sepertinya tidak berselera makan apapun, bencana yang menimpa hubungan percintaanku ini membuatku selalu berpikir tentang itu.
Tiba-tiba perawat rumah sakit  memanggil suami sepupuku,
“Keluarga Siti?” tanyanya menyebut nama istri abang sepupuku.
“Iya Buk?” Jawab abang sepupuku.
“Tolong jaga barang-barang kita di sini dulu ya Dek,” mintanya padaku sebelum ke ruangan istrinya.
Aku menganggukkan kepalaku. Aku tinggal sendiri di bangku tunggu. Ku lihat di sekelilingku juga ada keluarga yang menunggui saudaranya.
Mungkin dalam kesendirianku, dengan waktu menunggu yang lumayan lama, aku kembali merenungi jalinan asmaraku yang tidak bisa bertahan lama itu. Kami putus hanya karena aku meng-invite pin bbm ku kepada kakak senior di organisasi yang kami ikuti bersama pacarku. Kemarin dia yang meminta pinku. Yang sulit aku terima,  perkataannya yang mengatakan bahwa aku adalah wanita yang bodoh dan murahan karena mau meng-invite pin bbm kakak seniorku itu. Aku bertanya pada diriku sendiri,
“Apa benar aku wanita murahan?” tuturku perlahan.
Ini adalah pacaran yang kujalani setelah aku mengetahui bahwa “Pacaran itu Haram”. Aku telah membaca 2 buku yang menyatakan pacaran itu haram, dan mendekati zina. Sempat aku mengikuti anjuran buku tersebut. Tapi, ketika melihat teman-teman kosku yang pacaran, apalagi teman dekatku sering bercerita suka duka mereka dengan pacarnya. Aku kemudian berpikir lagi, aku mungkin tergoda syaitan, aku berkeinginan mencoba tuk pacaran ketika salah seorang abang seniorku mengungkapkan perasaan cintanya padaku.
 “kalau pacarannya biasa biasa saja, pengen tahu dan kenal satu sama lain, berbagi pengalaman, dan saling bertukar pikiran, dimana letak haramnya?”. pikirku saat itu.
“Salah! Aku ternyata salah!” tuturku.
Aku mengingat-ngingat, ketika aku pacaran, ternyata tidak sedikit musibah yang menimpaku, mulai dari tabrakan, nilaiku menurun, tidak bisa menuntaskan hafalan Al-Qur’anku, hingga aku kehilangan handphone-ku.
“Musibah ini adalah ujianku! Pacaran itu Haram, Ia telah mengganggu pikiran dan kehidupanku!” Sesalku.
Memang selama pacaran, aku selalu memikirkannya, tiada kabarnya aku kehilangan, hingga aku jarang sekali mendapatkan kekhusukan dalam menjalankan ibadah sholat. Waktuku untuk membaca al-Qur’an juga sepertinya semakin berkurang.
“Mungkin memang benar, aku ini adalah wanita murahan,” tuturku lagi. Aku mau aja mempertahankan lelaki yang sudah kuketahui masih sering meninggalkan sholat, sering melakukan perbuatan maksiat seperti minum minuman keras, dan judi. Bahkan masih mau melirik cewek berpakaian seksi yang lewat dengan modus hiburan bagi para cowok. Aku sering menelepon atau mengesmsnya duluan. Semua itu kulakukan hanya karena mempertahankan hubunganku dengannya. Karena banyak yang mengatakan, kalau nantinya dia akan berubah ketika aku berusaha merubahnya dan hubungan itu harus dipertahankan.
“Betapa bodohnya Aku! Itu kan harapan yang belum Jelas! Astagfirullahal’aziim!” ucapku ketika menyesali kesalahanku.
Ketika itu, seorang dokter lewat di depanku, entah karena melihat Dokter yang telah mencapai kesuksesannya, aku berfikir,
“Untuk apa aku memikirkan ketidakjelasan itu, memang benar kata buku itu, cinta yang Haqiqi itu adalah cinta kepada Allah SWT,  aku lebih baik fokus terhadap cita-citaku daripada memikirkan semua itu, aku ingin sukses, bagaimana aku mau sukses jika kehidupanku tidak mendapat berkah dari Allah, Aku Harus Hijrah!” tuturku perlahan.
Aku pun memikirkan untuk hijrah, aku akan mengikuti ajaran buku yang kubaca itu. Karena buku itupun berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aku mulai berpikir untuk komitmen, apalagi setelah semua ini terjadi kepadaku.

Penulis, Chusni Syukriani Pasaribu

Komentar

  1. Subhanallah, sesuai realitaaa! Kereeeen! Ditunggu kelanjutannyaaaa😎

    BalasHapus
  2. Super miss chu , kata dillan hijrah sendiri itu berat ajak aku juga ... semoga istiqomah ya :)

    BalasHapus
  3. Good Job miss chu, semoga yg lain juga menyadari bahwa sepositif apapun beranggapan mengenai pacaran tetap itu perbuatan yg salah karena pikiran itu hanyalah bisikan dari setan.
    Ditunggu kelanjutan nya
    Dan semoga istiqomah :)

    BalasHapus

Posting Komentar